Va’ dove ti porta il cuore (Pergilah Ke Mana Hati Membawamu): Surat-surat untuk Generasi Berikut

Image hosted by Photobucket.com

Seorang nenek tua bernama Olga yang tinggal di Opicina, Italia, tanggal 16 November 1992, merasa rindu pada cucunya yang telah dua bulan meninggalkan dirinya ke Amerika Serikat untuk belajar. Cucu itu adalah satu-satunya keturunannya yang masih hidup. Seluruh kerabat dia yang lain sudah lebih dahulu meninggalkan mereka. Anaknya-ibu si cucu-meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Begitupun kekasih sejatinya, suami, dan orangtua nenek itu telah lebih dahulu meninggalkannya.

Diselimuti kerinduan, nenek itu menulis surat pada cucunya menceritakan tentang keadaannya. Ia bertutur pula mengenai masa-masa setelah ditinggalkan sang cucu. Bahkan, keyakinan atas masa hidupnya yang segera akan berakhir pun ia ungkapkan.
Tampak, nenek tersebut menantikan kematiannya dengan tabah, bersama seluruh kenangan-kenangan ketika masih serumah, tinggal di rumah keluarga, bersama mawar dan anjing kesayangan cucunya. Akan tetapi, lantaran hubungan si nenek dengan cucunya itu tidak sebegitu baik, dan salah satu janji ketika mereka akan berpisah adalah tidak akan saling menyurati, alih-alih dikirimkan, surat-surat itu dia simpan. Rupanya ia berharap suatu saat, entah kapan, cucunya itu datang kembali dan sempat membaca surat-surat itu.

Image hosted by Photobucket.com

Lebih dari sekadar ungkapan kerinduan, surat-surat itu jadi semacam renungan Olga terhadap seluruh rangkaian kehidupan, baik pengalaman, pemikiran, harapan, sekaligus pengakuan atas semua hal yang sebelum ini tak pernah dia ceritakan kepada siapa pun. Jadilah surat itu merupakan rangkaian wasiat jujur-mempertaruhkan integritas dan harga dirinya-yang tidak saja berguna bagi cucunya, tetapi juga bagi seluruh pembaca yang mungkin sempat mendapati surat itu.

Surat itu terdiri dari 15 pucuk, ditulis secara hati-hati, sederhana, indah, penuh kasih sayang, panjang-panjang, dan bersambung. Surat terakhir bertanggal 22 Desember, tiga hari menjelang Natal. Hasilnya adalah sebuah kisah utuh tentang sebuah keluarga kecil serta rahasia-rahasia terdalamnya, termasuk refleksi perjalanan dan otokritik terhadap generasi ketika dia tumbuh, zaman modern saat anaknya tumbuh, dan masa kini (kontemporer) ketika cucunya mulai muncul, berkembang, mencari, dan membentuk kedewasaan. Ketiga zaman itu ia saksikan semuanya.

Image hosted by Photobucket.com

Oleh Susanna Tamaro, penulis buku ini, surat-surat si nenek itu dikumpulkan menjadi sebuah dokumen yang sangat berharga, berjudul Pergilah ke Mana Hati Membawamu (Va’ dove ti porta il cuore). Uniknya, sebelum surat itu sempat dibaca si cucu, justru pembacalah yang beruntung bisa mendapatkan isinya. Pada akhirnya surat itu bukan semata-mata sebuah kisah keluarga, melainkan kisah tentang pergantian generasi yang dalam pertumbuhannya masing-masing memiliki ciri khas dan semangat.

Metafora Olga dalam menceritakan pergantian generasi itu sangat lugas, yakni menggunakan perlambang pergantian kulit kerang. Dipaparkan, setiap kali seekor kerang baru tumbuh, kulit yang membungkusnya makin terdesak, sesak, akhirnya retak dan pecah. Seperti itulah pergantian generasi manusia: “Saat kulit kerangmu mulai terbentuk, kulit kerangku mulai pecah-pecah”.

Image hosted by Photobucket.com

Sudah barang tentu keretakan itu menyakitkan, tapi tulis Olga: “Siapa pun yang meninggalkan usia remaja tanpa terluka tak pernah bisa menjadi orang dewasa yang sempurna” (hlm 33). Lebih-lebih pada dirinya, kesakitan itu terasa sempurna karena dia mengalami dua kali keretakan, yakni dengan anak dan cucunya. Namun, kedewasaan yang dihasilkannya juga istimewa, yakni ketenangan, kejujuran, dan kedalamannya menuturkan seluruh isi hati dan pandangannya jadi sangat jernih.

Pertumbuhan emosi Olga jadi mirip terbentuknya sebuah mutiara, yang makin indah dan keras justru ketika makin dalam dan besar pasir masuk ke dalam tubuhnya. Karena kecintaan, kerinduan, ketulusan, dan kedewasaan itulah dia mampu menceritakan perihal yang selama ini dipendam jauh-jauh di dalam hatinya. Ia yakin bahwa seandainya rahasia itu terbaca oleh cucunya, respons yang muncul bukanlah penyesalan, melainkan rasa syukur bahwa seseorang telah menemukan kebenaran yang selama ini hilang, seakan-akan menemukan itulah bentuk permata yang mengajari dia cinta, sebuah permata yang amat sukar didapatkan.

Image hosted by Photobucket.com

Di sela-sela menceritakan siapa sebenarnya dia, bagaimana riwayat kehidupannya, kenapa dia melakukan itu semua, dengan sendirinya dia belajar merenungkan kembali makna seluruh peristiwa, berusaha arif terhadap segala yang terjadi. Dia tidak berpretensi menyesali masa lalu, berusaha mengajari cucunya sesuatu yang sok moralis atau jangan mengulang “kesalahan” yang pernah dilakukannya. Ia justru menyatakan bahwa hal paling penting yang harus dilakukan seseorang dalam hidupnya adalah mencari tahu yang sesungguhnya dikehendaki dirinya, berusaha membangkitkan keberanian untuk ikut pergi ke mana hati membawa, berjuang untuk lebih dulu mengenal diri sebelum memutuskan atau mengubah sesuatu.

Di akhir suratnya, Olga menulis pesan itu dengan ketabahan penuh: “Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus diambil, janganlah memilih dengan asal saja, tapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu”.

Image hosted by Photobucket.com

Menurut penerjemahnya, Antonius Sudiarja, SJ-yang juga anggota redaksi majalah Basis-buku ini memberi kiasan yang kuat, betapa Olga sebagai simbol generasi lampau harus merelakan cucunya, generasi yang baru, untuk melangkah memasuki era baru, mengikuti hatinya sendiri (hlm 19). Kesimpulan ini diamini oleh semua kritik yang membicarakan buku ini, yaitu memang seperti itulah berlangsungnya alih generasi.
Sebenarnya, di tingkat paling dasar sekalipun, ada yang tak kalah pentingnya dari kisah Olga sendiri, yakni tentang pertumbuhan emosi dan psikologi seorang perempuan, keluarga (perkawinan), serta kejujuran dan kesaksian seorang perempuan, baik sebagai pribadi maupun sebagai istri, ibu, sekaligus sahabat bagi orang-orang terdekatnya. Kehidupan batin seorang perempuan di dalam rumah dan keluarga (domestik) maupun pemikirannya tentang dunia sekeliling (publik) terpaparkan sangat brilian; sekali lagi kita diingatkan bahwa perempuan tidak boleh dicampakkan di sebuah sangkar emas, tetapi harus diberi kesempatan membangun dan menyalurkan energinya sendiri. Meskipun tak bisa mengalami, Olga adalah saksi sejumlah peristiwa penting munculnya gerakan perempuan-direpresentasikan pada diri putrinya, Ilaria-dan mendukung agar perempuan mengambil peran aktif terus memperbaiki nasibnya. Emosi, ironi, harapan, identitas, juga kecintaan hidup seorang perempuan muncul sempurna dalam surat-surat itu.

peresensi: Anwar Holid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s