Momo – Michael Ende

Image hosted by Photobucket.com

Saya selalu suka membaca buku dongeng/cerita kanak-kanak. Sejak saya mulai bisa membaca sampai setua sekarang dongeng-dongeng itu tetap menarik bagi saya. Penuh fantasi dan imajinasi yang tak terduga. Tokoh-tokoh serta kejadiannya benar-benar ‘hanya ada di buku’. Selalu berhasil menghibur saya. Dulu, 25 tahun yang lalu, kisah favorit saya adalah serial Lima Sekawan karya Enid Blyton yang terkenal itu. Juga Sapta Siaga dan Little House On The Prairie dengan tokoh anak perempuan bernama Laura Ingalls Wilder (beberapa judul bukunya masih saya simpan dengan baik). Ketika SMP saya membaca Trio Detektiv-nya Alfred Hitchcock, Hardy Boys atau juga Pulung karya Bung Smas. Sampai akhirnya saya berkenalan dan jatuh cinta pada serial Harry Potter (J.K.Rowling). Entahlah, rasanya kok mengasyikkan menghanyutkan diri dan khayalan saya bersama tokoh-tokoh dongeng itu.

Image hosted by Photobucket.com

Momo adalah juga sebuah dongeng kanak-kanak karya Michael Ende. Penulis asal Jerman yang lahir tahun 1929 ini sampai wafatnya tahun 1995 memang telah banyak menulis cerita untuk anak-anak dan karya-karyanya tersebut telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa. Saya tentu segera saja tertarik pada buku ini. Covernya dengan warna oranye cerah bergambar seorang anak gelandangan berbaju compang-camping turut menambah ketertarikan saya untuk membaca buku tersebut. Dan ternyata kisahnya lumayan bagus.

Image hosted by Photobucket.com

Momo adalah seorang gadis kecil berusia 12 tahun yang hidup di suatu masa di mana orang-orang masih berbicara dalam bahasa yang sama sekali berbeda dari bahasa-bahasa yang kita kenal sekarang. Ia seorang anak gelandangan, yatim piatu, tak punya rumah tinggal dan hidup sebatang kara di dunia ini. Tempat tinggalnya selama ini adalah sebuah ruangan kecil di amfiteater. Amfiteater adalah sebuah bangunan berbentuk setengah lingkaran tempat orang-orang menonton pertunjukan teater/drama di masa itu. Momo banyak punya kawan. Mulai dari anak-anak seusianya sampai mereka yang berusia jauh di atasnya. Seluruh penduduk kota itu menyukai dan menyayangi Momo yang pandai mendengarkan cerita. Setiap hari mereka selalu bergantian datang mengunjungi anak kecil itu untuk bercerita atau sekedar bermain-main bersamanya.

Image hosted by Photobucket.com

Dari semua temannya, ada dua orang yang lalu menjadi amat dekat dengannya, yaitu Gigi Si Pemandu Wisata dan Beppo Tukangsapujalanan. Mereka bertiga menjadi sahabat yang saling bantu-membantu dalam kesulitan.

Image hosted by Photobucket.com

Suatu hari kota mereka yang tenang dan damai itu mendapat bencana. Sekelompok orang yang menamakan diri mereka sebagai Tuan Kelabu datang ke kota mereka dan mengacaukan segalanya. Para Tuan Kelabu yang suka berpakaian abu-abu sambil menghisap cerutu berwarna kelabu itu adalah segerombolan pencuri. Bukan harta benda yang mereka ambil dari para penduduk kota tempat Momo tinggal. Mereka mencuri waktu yang dimiliki seluruh penduduk kota. Akibatnya orang-orang di kota itu lalu berubah menjadi orang-orang yang murung, tidak peduli lagi satu sama lain serta selalu terburu-buru karena takut kehilangan waktu mereka yang berharga. Mereka tak lagi menyempatkan diri berkunjung ke amfiteater untuk bercerita dan bercengkrama.

Image hosted by Photobucket.com

Melihat keadaan tersebut, Momo beserta kedua orang sahabatnya, Gigi dan Beppo, jadi prihatin dan bertanya-tanya apa sebabnya. Mereka bertiga, untungnya, belum menjadi korban para Tuan Kelabu (Walaupun kemudian Gigi dan Beppo jadi korban juga). Momo tidak menyadari bahwa dirinya ternyata dijaga dan dilindungi oleh Empu Hora, Sang Penguasa Waktu seluruh umat manusia di bumi, sehingga gerombolan penjahat itu tak pernah bisa menjamah dan mencuri waktu darinya. Empu Hora sengaja berbuat demikian sebab ia butuh bantuan bocah itu untuk menyelamatkan dunia dari kekejaman para Tuan Kelabu.

Image hosted by Photobucket.com

Maka lalu dimulailah petualangan Momo menyelamatkan kotanya dan membebaskan seluruh penduduk dari pengaruh Tuan Kelabu agar kehidupan kembali normal. Dengan bantuan kesaktian Empu Hora dan ditemani seekor kura-kura ajaib bernama Kassiopeia, Momo akhirnya berhasil mengembalikan waktu milik orang-orang yang telah dicuri oleh gerombolan Tuan Kelabu. Kotapun hidup kembali seperti semula.

Image hosted by Photobucket.com

Karena saya tahu bahwa ini adalah dongeng, maka saya sudah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan tokoh-tokoh, tempat dan kejadian-kejadian khayali. Kita benar-benar disuguhi satu kisah petualangan di sebuah negeri khayal yang bisa terdapat di mana saja. Saya tidak membaca buku ini dalam bahasa aslinya, tetapi membaca terjemahan Indonesianya saya merasa pastilah Ende telah menuliskan kisah ini dengan bahasa yang enak dan mudah dicerna. Hendarto Setiadi telah mengalihbahasakan Momo dengan bagus sekali. Beberapa kata bahkan terkesan mengalami penyesuaian dengan kondisi lokal Indonesia (saya jadi ingat komik Asterix).

Image hosted by Photobucket.com

Yah sebaiknya sih memang tidak usah memakai logika yang terlalu serius untuk membaca dan memahami buku ini. Nikmati saja, jangan diperdebatkan kebenarannya. Namanya juga dongeng.

Oleh: http://perca.blogdrive.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s