Life of Pi: Membuat Orang Percaya pada Tuhan

Image hosted by Photobucket.com

Judul: Kisah Pi
Judul asli: Life of Pi
Penulis: Yann Martel
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: GPU, 2004
Tebal: 446 halaman
Harga: Rp 48.000

“SAYA punya cerita yang bakal membuat Anda percaya kepada Tuhan,” kata seorang tua pada Yann Martel saat sedang di India mencari sesuatu untuk dijadikan bahan novel. Dia sedang berharap mendapat hal hebat untuk ditulis. Kisah dengan orang tua itu membuatnya bertemu dengan Piscine Molitor Patel, yang sepenggal hidupnya terkatung-katung di Samudra Pasifik selama 227 hari di sebuah sekoci bersama seekor harimau royal bengal seberat 225 kg.

Waktu itu, Pi Patel berusia 16 tahun. Dia bersama keluarganya sedang dalam pelayaran pindah dari India ke Kanada. Samudra Pasifik adalah lautan terluas di dunia, sekitar 165 juta km persegi, alamnya ganas, cuaca, gelombangnya tak bisa ditebak; dan ’petualangan’ di sana bersama binatang buas tentu sebuah kisah sulit dipercaya. Bagaimana bila kisah Pi semata-mata kebetulan dan tidak ada bukti Tuhan pernah ikut campur tangan? Pi-dalam kekalutan menghadapi situasi terburuk, semangat mencintai Tuhan, mengasihi sesama makhluk dan mempertahankan nyawa-menganggap hidup dengan harimau di tengah lautan adalah pertunjukan sirkus paling hebat sedunia, tempat seorang pawang disoraki seluruh penonton karena berhasil mengalahkan segala rintangan, meski berdebar-debar takut tiba-tiba diserang.

Di situlah taruhannya. Orang diuji oleh keyakinannya. Orang religius seperti Pi diuji sepanjang waktu akan keyakinannya, apa Tuhan betul-betul sebagaimana diimaninya. Di puncak putus asa Pi pernah ragu, benarkah Tuhan bersama dia yang terkena bencana, diancam kematian, ketakutan, ketika harapan dan keyakinan nyaris tak ada gunanya. Saat berteriak-teriak minta tolong, kehabisan energi, tak seorang pun pernah mendengarnya, masihkah iman pantas dipertahankan atau Tuhan layak diseru? Dalam keadaan seperti itu rasanya Tuhan bukan merupakan hal penting.

Image hosted by Photobucket.com

Terlunta-lunta di lautan maha luas, nyaris tanpa kemungkinan selamat, sudah merupakan bencana mengerikan yang tak akan berani dibayangkan siapa pun; apalagi ditambah binatang buas yang kapan pun bisa memangsa, tak peduli orang bermaksud menyelamatkannya; sebab binatang tak punya akal, dan keduanya tak punya cara berkomunikasi. Satu yang sangat alamiah dalam buku ini ialah interaksi lama dengan binatang buas tidak membuatnya jadi manusiawi. Binatang tetap liar, berbahaya, memiliki dunia dan nasibnya sendiri, termasuk tak tahu cara berterima kasih. Wajar saat digesek perlahan-lahan oleh penderitaan, cobaan, tanpa harapan, di tepi kematian, keyakinan orang beriman melemah sedikit; tetapi begitu muncul harapan, iman kembali menguat, dan Tuhan hadir sebagai cahaya yang bersinar di dalam hati. Sangat wajar pula bila dalam keadaan tanpa harapan dan putus asa, diterjang penderitaan terus-menerus, seseorang berpaling kepada Tuhan.

DI samudra inilah Pi mengalami peristiwa paling buruk yang bisa dibayangkan orang, menghadapi titik terendah kehidupan. Dia bukan saja dicabut dari kenyamanan sebagai anak keluarga kaya, terpelajar, harmonis, terkemuka; kemudian diempaskan pada kenyataan seluruh keluarganya lenyap, yang tersisa dia sendiri, bersama kenangan, pikiran, ketakutan. Tanpa aba-aba dia diceburkan pada bahaya dan kepapaan sekaligus; bahaya di tengah alam yang tak tahu apa-apa selain insting dan keseimbangan; kepapaan bahwa satu-satunya hal tersisa yang layak diberikan seseorang kepada makhluk di dekatnya adalah kasih sayang.

Religiositas dan Tuhan adalah ’kawan lama’ sastra. Pertemuan keduanya kadang-kadang merupakan pergumulan tak terhindarkan. Confessions karya St Augustine, misalnya, merupakan salah satu karya klasik sumber khazanah agama dan sastra sekaligus. Indonesia juga terus-menerus melahirkan penulis religius dan pada saat bersamaan mampu mencapai titik estetika mumpuni. Amir Hamzah, YB Mangunwijaya, Kuntowijoyo, AA Navis, adalah satu-dua contoh penulis yang sama sekali tak membedakan apa mereka sedang berekspresi dalam ketaatannya sebagai pemeluk teguh atau tengah mencurahkan ekspresi sastra. Cerpen Robohnya Surau Kami (AA Navis) merupakan contoh bagaimana agama, religiositas, ketuhanan, diungkap dalam karya sastra dengan cara sangat bagus.

Image hosted by Photobucket.com

Apabila merupakan kelebihan, dalam sastra subjek Tuhan atau religiositas biasanya lebih mungkin diungkapkan secara indah, ekspresif, sering personal. Tuhan yang agung, sempurna, kadang-kadang terasa tiada bila dihadapkan kemalangan, dengan doa-doa tak terjawab. Tuhan kadang-kadang begitu jauh, tak terjangkau, namun pada saatnya dia begitu dekat, tak berjarak dengan jiwa seseorang. Di situlah ketika manusia terombang-ambing antara harapan dan keputusasaan, Tuhan kerap mengambil peran sebagaimana dipahami kaum beriman. Kata Ludwig Wittgenstein, “Percaya kepada Tuhan artinya sadar bahwa hidup memiliki makna.”

MARTEL menceritakan kisah Pi ini dengan memesona, tampaknya bahkan berpotensi memaksa pembaca tak mampu menutup buku kecuali bila halaman berakhir. Dia bertutur lugas, memikat, detail luar biasa, studi zoologinya kaya, sisi humornya mengejutkan. Semua unsur itu membuat keterbacaan buku ini tinggi, bisa dinikmati siapa saja, tak terkecuali pembaca remaja pencinta Harry Potter. Martel nyaris habis-habisan mengeksplorasi genre realisme magis-genre sastra yang memadukan unsur fantastis dengan narasi realistis, dan secara bersamaan mengabstraksi akar persoalan sosial-yang kerap dinisbatkan menjadi ciri utama sastra poskolonial.

Dia menggunakan banyak sekali unsur poskolonial, mulai dari tokoh, setting, subject matter, konflik, dan sudut pandang realisme magis, memungkinkan Martel menghadirkan peristiwa supranatural dan mampu menyediakan beragam interpretasi multifaset. Bagaimana kesalehan yang aneh membuat Pi pernah mengalami beberapa kali ’penglihatan’ (visions), disalami seluruh isi alam sebagai manifestasi kesatuan kosmos; di saat lain karena ditindas putus asa berkepanjangan dia pun mengalami halusinasi, delusi, berkali-kali panik, hingga nyaris kehilangan akal sehat, termasuk ’berbincang-bincang’ dengan harimau menjelang dirinya sama sekali tak bisa berbuat apa-apa.

Di bagian pertama pembaca berkenalan dengan Pi yang mengesankan, saleh, luar biasa. Pi beda sendiri dalam keluarganya. Melakukan ritual tiga agama sekaligus pasti menimbulkan kontroversi dan kebingungan. Bersetting di India, yang sangat tepat dipilih karena memiliki akar agama begitu tua, dalam kepolosan seorang remaja mempertanyakan keagungan Tuhan, Pi membentur-benturkan pandangan tentang absolutisme agama. Jika Tuhan yang menciptakan agama, kenapa kita tak boleh mengambil semua jalan-Nya?

Image hosted by Photobucket.com

Dengan komentar terkesan sembarangan, tetapi sukar disanggah, dia bicara toleransi agama, bahkan terhadap kaum ateis. Dia minta dibaptis, tetapi juga minta sajadah untuk shalat, tetap melakukan puja. Semua itu membuat bingung keluarga, apalagi ketiga guru agamanya. Ditanya kenapa tidak memilih salah satunya, Pi menjawab, “Semua agama itu baik adanya. Aku cuma ingin mengasihi Tuhan.” Dia mengutip diktum Gandhi, dengan begitu para otoritas agama pun terdiam.

Kemampuan Martel menggali psikologi terdalam manusia, pada saat bersamaan terus mempertahankan ketegangan upaya penyelamatan, cara bertahan di lautan, relasi paksaan dua makhluk di tempat tak sempurna, ternyata menghasilkan efek dramatik luar biasa. Demikian dramatis hingga orang kerap hanya mampu terkesan oleh unsur kegilaan fantastiknya, namun sangat sulit mau percaya. Bagi Pi sendiri pengalaman itu adalah semacam penggenapan kasih Tuhan untuknya. Kata dia, ’Tuhan juga sulit dipercaya, coba tanyakan pada siapa pun yang mempercayainya. Kenapa Anda tidak bisa menerima hal-hal yang sulit dipercaya?’ (hal 417). Pi rupanya tahu Tuhan bekerja secara rahasia.

Menamatkan bagian keduanya adalah membaca sebuah cerita tentang keberanian dan ketabahan yang sangat menakjubkan dalam menghadapi situasi yang luar biasa sulit dan tragis-demikian komentar salah satu pendengarnya. Apa kisah itu benar-benar bisa membuat seseorang percaya pada Tuhan? Tidak selinear itu; tapi setidaknya pembaca dijamin akan mendapat banyak hal berharga dari peristiwa yang menghancurkan ego manusia, kemudian bangkit lagi, hadir lebih utuh dan sadar.

Image hosted by Photobucket.com

Karier kepenulisan Yann Martel sendiri berubah cukup drastik karena buku ini. Dulu dia termasuk obscure writer yang tak diperhatikan kritik atau pembaca manapun. Namanya bahkan tidak masuk di antara 225 penulis dalam daftar The Salon.Com Reader’s Guide to Contemporary Authors yang otoritatif. Berbeda dengan dua buku awalnya-kumpulan cerita Facts Behind the Helsinki Roccamatios (1993) dan novel Self (1996)-yang cepat kandas di pasar, Life of Pi merupakan bestseller di negara-negara Persemakmuran, mendapat beragam penghargaan, yang paling terkemuka ialah The Man Booker Prize pada 2002. Novel ini menyebabkan namanya segera menyeruak sebagai penulis utama, diwawancarai media literer terkemuka, hidup nomadennya disingkap banyak orang, ditanya dari mana pandangan Pi berasal.

Kabar terakhir menyebutkan novel ini tengah diproduksi Fox Studios sebagai film oleh sutradara M Night Shyamalan; sementara penulis Kanada kelahiran 25 Juni 1963 ini diberitakan sudah mulai menulis novel baru yang katanya akan lebih mengeksplorasi metafora kebinatangan dalam diri manusia.

Anwar Holid Eksponen komunitas Textour, Rumah Buku Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s