Bibliholisme

Image hosted by Photobucket.com

…Mary Shelley, pengarang Frankenstein yang terkenal itu, sering menyobek halaman kosong di awal atau akhir buku dan bikin kapal kertas darinya. Chares Darwin membelah buku tebal menjadi dua agar mudah menentengnya kemana-mana. Dan, tentu saja, bibliokas yang parah biasanya penguasa yang terlalu percaya pada kekuatan buku, dan memerintahkan membakar buku-buku yang tak disukai.

Kecanduan yang paling baik, kata orang, adalah kecanduan buku. Karena tidak akan membuat orang teler seperti kecanduan narkotik atau minuman keras, tidak akan membuat orang geleng-geleng kepala dengan cepat seperti pecandu pil ecstacy, atau paru-paru tergerogoti karena mencandu rokok.

Nah, hasrat untuk membeli, membaca, menyimpan, dan mengagumi buku yang cenderung berlebihan disebut biblioholisme –sedang orangnya disebut biblioholik (seperti alcoholic untuk pecandu alkohol, dan workaholic untuk pecandu kerja). Tom Raabe dalam bukunya yang kocak tentang kebiasaan pecandu buku, Biblioholism, The Literary Addiction (Fulcrum Publishing, 1991), menulis ada dua jenis biblioholisme: bibliomania (gila buku) dan bibliofil (cinta buku).

Yang membedakan keduanya adalah motivasi. Seorang bibliomania membeli buku hanya untuk menumpuknya, sedang bibliofil mengharap dapat menguras isi dan kebijakan dari buku-bukunya. Lihat saja Boulard, ahli hukum asal Perancis yang hidup pada abad ke-18. Begitu bernafsu membeli buku, hingga tak cukup rumahnya –sampai-sampai ia membeli enam rumah lagi untuk buku-bukunya. Orang yang bertamu harus ekstra hati-hati, kalau tidak mau tertimbun longsoran buku. Sampai meninggalnya, Boulard memiliki 600 ribu sampai 800 ribu jilid buku. Dan ketika diloakkan, semuanya baru habis setelah lima tahun. Problem kegilaan Boulard: ia tak membaca buku yang ia beli.
Sedang bibliofil lebih waras: banyak membeli dan banyak membaca. Richard Heber, asal Inggris dan hidup pada abad ke-19, adalah contohnya. Sama dengan Boulard, koleksinya yang berjumlah 200 ribu sampai 300 ribu buku memaksa ia memiliki delapan rumah: dua di London dan enam lainnya tersebar di Inggris dan Eropa. Beda dengan Boulard, ia selalu membaca bahkan sampai akhir hayatnya.

Tapi, apakah memang kita harus membaca semua buku yang kita beli? Supaya tetap menjadi bibliofil dan tak terperosok ke dalam jurang bibliomania, berapa persen buku milik kita yang harus kita baca? Sembilan puluh persen? Lima puluh persen? Atau hanya dua puluh persen? Jawabannya, kata Tom Raabe, berbeda setiap orang, dan hanya orang itulah yang tahu apakah ia gila atau cinta.

Lebih lanjut lagi, Tom Raabe mewejangkan, waspadailah beberapa “penyakit jiwa” aneh menyangkut buku. Karena ingin menaruh buku seaman-amannya, maka penderita penyakit bibliotaf (bibliotaph) akan mengubur buku-bukunya. Percaya bahwa masa depan manusia akan selamat jika buku karyanya selamat dari persekongkolan penguasa dunia saat itu, John Stewart meminta pembacanya menyimpan buku-buku itu sebaik-baiknya. “Tempatkan dalam kotak anti-lembab, kuburkan sedalam tiga meter, dan rahasiakan tempatnya kecuali kepada orang kepercayaanmu,” imbaunya. Juga jangan seperti seorang bibliotaf yang meminta dikuburkan dengan buku-bukunya, dengan peti mati terbuat kayu bekas rak bukunya.

Jangan pula seperti penderita bibliokas (bibliocast) yang inginnya menghancurkan buku. Jika Anda datang ke perpustakaan, atau pinjam buku teman, lalu ada halaman yang menarik –entah isinya atau gambarnya– sampai-sampai Anda tak tahan jika tak memilikinya dan karenanya menyobek halaman itu: Awas, Anda seorang bibliokas, penghancur buku. Jangan berdalih, sebagian besar kita pernah melakukannya –dan sekarang, mudah-mudahan, sudah sembuh. Tapi, ternyata beberapa orang terkenal pun punya kecenderungan bibliokas. Mary Shelley, pengarang Frankenstein yang terkenal itu, sering menyobek halaman kosong di awal atau akhir buku dan bikin kapal kertas darinya. Chares Darwin membelah buku tebal menjadi dua agar mudah menentengnya kemana-mana. Dan, tentu saja, bibliokas yang parah biasanya penguasa yang terlalu percaya pada kekuatan buku, dan memerintahkan membakar buku-buku yang tak disukai.
Dan yang lebih aneh lagi adalah bibliofagi (bibliophagi) –penderitanya makan buku, dalam arti yang sesungguhnya. Sebagian orang pernah melakukannya: membakar buku pelajaran, abunya dicampur kopi lalu diminum dengan harapan isi buku itu menghunjam ke otak kita. Contoh lain: Ketimbang dihukum pancung seorang penulis dari Skandinavia memilih pura-pura gila dengan memakan bukunya setelah direbus dalam air daging. Lebih malang lagi adalah Isaac Volmer yang juga harus makan bukunya tapi tanpa dimasak dulu. Atau Theodore Rinking, yang hidup pada abad 17, menerima tawaran memakan buku kontroversialnya –dan ia memesan saus khusus– agar bebas dari penjara.

Yang terakhir, dan paling banyak penderitanya, adalah biblionarsisis (biblionarcissist). Dalam mitologi Yunani, kita tahu, Narcissus adalah seorang pemuda yang amat tampan –sampai-sampai ia jatuh cinta pada ketampanannya yang ia lihat terpantul dari sebuah kolam. Terus menerus di pinggir kolam, tak makan dan minum, ia akhirnya mati, dan berubah menjadi bunga Narsisis. Nah biblionarsisis mengkoleksi buku –enskilopedi komplet dengan lemari khusus, misalnya– hanya untuk berlagak, bermegah-megah, pamer, dan mengagumi diri sendiri. Menurut agama, itu riya’ (atau kita ganti saja istilahnya menjadi biblioriya’?).

keterangan gambar: diambil waktu gathering bloggers makassar di Gramedia Mari, photograher-nya si cikal. Sorry cikal aku comot dari blogmu! E, yang megang buku itu aku, yang dipegang itu bukuku! Beli dong!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s