AGAR PERPUSTAKAAN TAK JADI KUBURAN

Penulis: Hernowo

Image hosted by Photobucket.com

Perpustakaan, dari zaman ke zaman, adalah “nyawa” kehidupan sebuah peradaban. Tidak ada peradaban di dunia yang berkembang dan terus membaik tanpa bermodalkan buku. Perpustakaan adalah juga jantung kegiatan pendidikan. Tidak ada sekolah yang berhasil melahirkan para lulusan dengan prestasi hebat tanpa buku. Betapa pentingnya mendirikan rumah

Pertanyaannya, apakah cukup hanya mendirikan bangunan fisik sebuah perpustakaan dan kemudian mengisinya dengan buku-buku bermutu? Untuk langkah awal, tentu, pendirian bangunan fisik amat perlu. Hanya, setelah bangunan berdiri, sebuah perpustakaan sangat layak untuk menjaga keberadaannya dengan kegiatan-kegiatan yang menggairahkan berkaitan dengan buku.

Menarik minat masyarakat untuk membaca pada zaman sekarang bukanlah pekerjaan mudah. Ada banyak “musuh” kegiatan membaca yang telah menyebar dan mengakar di tengah masyarakat. Kita bisa menyebut televisi–meskipun telah berjasa memberikan hiburan selama 24 jam full–sebagai salah satu “musuh” terbesar itu.

Namun, akan sangat membuang energi apabila kita hanya menyalahkan “musuh-musuh” kegiatan membaca. Alangkah bagusnya apabila energi yang kita miliki, kita coba gunakan untuk mencari sesuatu yang dapat membantu para pengelola perpustakaan, atau pihak-pihak lain yang concern terhadap bangkitnya minat membaca di masyarakat, agar lebih termotivasi untuk terus mau dan mampu “menghidupkan” perpustakaan hingga akhir zaman.

Berikut adalah beberapa usulan saya yang semoga dapat memberikan alternatif untuk “menghidupkan” perpustakaan. Usulan ini tentu bukan usulan final. Ini merupakan usulan yang dapat dipilih dan dipertimbangkan sesuai kemampuan dan ketersediaan dana yang ada. Saya sengaja mengurutkan usulan saya ini dari yang paling mudah ke yang, mungkin, paling sulit dilaksanakan. Semoga bermanfaat.

1. Menempel poster orang-orang yang sukses lantaran kesuksesan itu mereka raih lewat membaca buku.

Bayangkan, di sebuah perpustakaan terdapat foto atau gambar Buya Hamka, Soekarno, Deliar Noer, Fuad Hassan, Nurcholish Madjid, Ratna Megawangi, atau tokoh-tokoh lain, yang terpampang dengan jelas dan kemudian setiap orang yang melihat foto atau gambar tersebut dapat memahami bahwa mereka sukses lantaran mereka menjalankan kegiatan membaca buku.

2. Menempel poster para penulis yang telah berhasil mewarnai dunia dengan karya-karya tulisnya.

Bayangkan pula, di sebuah ruang perpustakaan yang kecil namun nyaman, para pengunjung perpustakaan yang masih anak-anak dapat melihat sosok-hebat H.C. Andersen, Al-Ghazali, Anne Frank, R.A. Kartini, Jalaluddin Rumi, Annemarie Schimmel, Mohammad Hatta, J.K. Rowling, dan para penulis kondang lain, yang telah berjasa menyebarkan ilmu lewat buku-buku karyanya.

3. Ada kegiatan membaca dan menulis yang saling melengkapi dan mendukung.

Bayangkan pula, para pengunjung perpustakaan tidak hanya membaca buku namun juga disediakan meja untuk menuliskan ide-idenya, gara-gara pikirannya berinteraksi dengan pikiran para penulis buku yang dibacanya. Sebuah perpustakaan dapat melahirkan para penulis, apakah mungkin?

4. Menyediakan bahan bacaan yang lengkap, kaya, dan beragam, yang tak hanya buku.

Bayangkan, apabila ada perpustakaan untuk anak-anak yang dapat menarik minat para orangtua, paman dan bibi, dan anggota keluarga mereka yang lain untuk juga dapat mendapatkan bahan-bahan bacaan yang bagus dan bermutu? Bayangkan, jika di perpustakaan itu juga menyediakan bukan hanya buku tetapi publikasi lain, seperti katalog, buletin, ataupun berita-berita ringan tentang perkembangan teknologi informasi (komputer dan ponsel, misalnya)?

5. Ada teladan (role model) baca-tulis di perpustakaan yang dapat dilihat oleh pengunjung perpustakaan setiap hari.

Bayangkan, sebuah perpustakaan yang para pengelola perpustakaannya juga aktif membaca dan menulis? Di papan pengumuman atau majalah dinding perpustakaan tertempel tulisan-tulisan para pengelola perpustakaan yang mengabarkan tentang kehebatan sebuah buku baru yang baru tiba?

6. Ada, sesekali, pelatihan peningkatan keterampilan baca tulis untuk semua kalangan.

Bayangkan, apabila sesekali di sebuah ruang perpustakaan yang sempit diadakan pelatihan peningkatan keterampilan membaca dan menulis? Bagaimana mengenali buku yang bergizi, misalnya, dan bagaimana membaca dengan menggunakan keseluruhan komponen otak dan indra, misalnya lagi?

7. Ada tokoh masyarakat yang dihadirkan ke perpustakaan, dan tokoh itu memiliki minat dan perhatian yang besar terhadap tumbuh-berkembangnya kegiatan baca tulis di masyarakat luas.

Bayangkan, apabila proses “menghidupkan” perpustakaan ini juga didukung dan melibatkan para tokoh masyarakat, seperti lurah, camat, bupati, walikota, gubernur, pejabat negara, para guru, dosen, pengusaha, public figure, dan para selebriti? Bayangkan pula bahwa para tokoh masyarakat ini bukan hanya berdiri di pinggiran dan menyaksikan kegiatan perpustakaan itu dari luar. Namun, mereka benar-benar membenamkan diri dan memiliki jadwal khusus setiap minggu untuk ikut membaca dan menulis di sebuah perpustakaan. Apa yang akan terjadi dengan perpustakaan-perpustakaan kita apabila bayangan-bayangan itu mewujud nyata?[]

Iklan

One thought on “AGAR PERPUSTAKAAN TAK JADI KUBURAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s