[tinjauan buku] Nayla!

Image hosted by Photobucket.com

Nayla
Djenar Maesa Ayu
Gramedia Pustaka Utama, 2005

[mulai sekarang, biblioholic akan menyediakan ruang untuk tinjauan buku, utamanya buku yang bisa di temui di biblioholic. kali ini membahas novel pertama Djenar Maesa Ayu, Nayla. ada beberapa tinjauan yang dicomot bgitu saja dari bberapa situs (sorry buat yang punya situs! semuanya tentang buku yang sama.]

Perempuan yang (merasa) Bahagia

Nayla adalah dunia lawas kaum perempuan. Narasi pemberontakkan. Cerita citra perempuan yang termarginalkan. Layar bisu dunia lain perempuan, yang suram tapi jelas terlihat. Kegemerlapan yang mematikan….***

Ada pandangan Sapardi Djoko Damono, kalau industri media telah menciptakan perempuan penulis. Saya penulis, harusnya saya bahagia dengan pandangan itu. Coba saja simak berapa bandingan penulis lelaki dan perempuan saat ini, ‘minimal kalau Anda perempuan, menulislah di Koran Tempo, Insya Allah akan dimuat’, begitu rekan saya yang wartawan di sana berseloroh.

Kalau mau dicokok hidung siapa yang paling bertanggungjawab adalah: Ayu Utami dan para penulis teenlit dan chicklit. Tapi Itu tindakan bodoh. Karena yang berujar toh adalah juga lelaki, maka sah saja kalau saya mengambil jarak terhadap pandangan itu.

Konon, ketika tingkat perekonomian sudah terbilang mapan, di mana para lelaki sibuk bekerja, dan perempuan yang juga sudah mencecep dunia pendidikan, anak-anak sudah bisa diasuh oleh pengaruh bayaran, ada waktu bagi perempuan untuk menulis. Itu Sapardi transformasikan ketika Revolusi Industri industri di Inggris melahirkan sejumlah penulis perempuan. Begitu sulitkah untuk menerima kenyataan kalau perempuan pun menulis? Begitu mencurigakankah setiap jengkal langkah seorang perempuan?

Djenar Maesa Ayu menjawab semua uneg-uneg ini dalam Nayla di pada bagian kecil novelnya saat percapakan “Di antara Dua Dunia” ketika dia merasa bosan dengan situasi yang ia dapatkan. Mulai dari cara berpakaian, sampai ketika cerpennya dimuat di koran, ada saja yang salah. (hal. 160)

“Modal cantik doang tuh…”

“Modal body tuh…”

Novel Nayla sekilas bagai representasi diri Djenar di dunia kepenulisan kita yang hiruk-pikuk. Djenar meleburnya dalam bejana fiksi. Anda bisa mengambil jarak dekat atau jauh dengan sisa endapan yang Anda baca. Ini bukan sensasi, ini esensi. Djenar bukan bermaksud mengecoh dunia kepenulisan ini, tapi, tabrakan realita VS fiksi dihadirkannya ke dalam bentuk ‘kejadian’ baru…

Nayla bukanlah kembangan dari cerpen Waktu Nayla yang sempat gaduh di Cerpen Terbaik Kompas 2003. Nayla bukanlah barang baru dalam tema pemberontakkan perempuan pengarang. Nayla bukanlah corong untuk membuat perempuan jadi perkasa. Ia brutal, namun terasa halus human interest-nya. Nayla bukanlah sebuah novel gugatan yang padat dengan kebebasan bahasa. Nayla bukanlah pornografi, Ia adalah kenyataan.

Tapi, Nayla adalah sebuah pecahan fiksi yang coba memotret perangai dunia, yang memang masih berlangsung terhadap perempuan. Nayla adalah sebuah percikkan ide yang berusaha jujur bertutur. Nayla adalah sebuah keberanian…

Nayla adalah cerita manusia urban yang limbung dalam pencarian. Ia bercerita tentang ‘rasa’ yang diserahkan cecapan itu pada lidah setiap pembacanya. Cerita tentang penderitaan dan kebahagiaan.

Pesonanya bukan dari struktur cerita, yang komentar teman lekaki saya sangat rumit. Saya melihatnya justru dari bagaimana ia menghadirkan sebuah aspek humanis yang fundamental. Pijakkannya bukan sekadar berteriak perihal pemberontakkan. Ia membagi ‘rasa’ kebahagiaan yang ‘lain’.

Bicara soal kebahagiaan tak akan pernah selesai. Setiap orang pasti berbeda-beda. Bahkan setiap jengkal tubuh pun akan punya definisi berbeda. Kapan Anda terkahir berfikir soal kebahagiaan? Sudah baca Nayla?

*** Dewi Rokhmawati; untuk novel Nayla-Djenar Maesa Ayu, Gramedia Pustaka Utama, 2005

Lelaki yang (Merasa) Bahagia

Tak mudah menjabarkan arti ‘bahagia’, apalagi saya harus berhadapan dengan seorang wanita. Meski laki-laki sudah dipojokkan dengan entry kata; ‘logis’, ‘mekanis’, ‘tak tahu perasaan’ atau semacam itulah. Saya menjadi orang lain ketika tetap dipaksa ‘bagaimana lelaki itu bahagia’…

Saya pengagum Tolstoy, itupun masih tersedak saat mebaca butiran kalimat sakralnya, “Jika hanya kebahagiaan yang kau cari, betapa gersang dan kejamnya hidupmu…” saya coba merapikan diri untuk merasa tahu apa arti kalimat itu saat selesai mengejanya.

Di (negara) manapun, sebenarnya, jadi perempuan itu ‘enak’. Setidaknya, jika ada pengarang, perempuan yang menulis novel tentang pemberontakkan, tidak sedikit para kritisi mencoba ambil bagian untuk menyorotnya. Meski yang menyorotnya seorang lelaki, tak sulit untuk mengambil puluhan poin untuk ditelaah. Ujung-ujungnya dedahan itu akan menyisakan baris kalimat yang menyemangati kelahiran sebuah gugatan yang berani dari seorang pengarang perempuan. Saya sebal? Tidak. cuma ingin memberi posisi pada penulisnya.

Membaca Nayla, justru membuat saya ingat pada kriminalitas di ‘dunia layar’. Novel yang dibuat dengan fragmen-fregmen kecil ini dibuat dengan teknik struktur yang rumit. Kepala saya seperti ditusuk-tusuk peniti ketika harus berusaha faham tentang ‘emosi’ saya sebagai pembaca. Pada bagian fragmen “Tentang Pelecehan Seksual” saat Nayla bersahutan cakap dengan Juli ketika ditanya kapan pertama kali ngelakuin (hal. 83). Nayla di sana bilang pada umur sembilan tahun. Juli yang lesbian itu kaget, tapi Nayla dengan datar bilang saat itu dia diperkosa. Saya seperti ditusuk peniti… kok bisa?!

Sekali lagi. Kebahagiaan. Bukan suatu kerumitan untuk dijabarkan, jika kita merasa seakan-akan pernah bahagia. Dalam novel, apakah Nayla bisa dikatakan bahagia? Saya pura-pura mengerti ketika ia menghujamkan botol bir ke dada Ben sebagai ‘balasan’ atas segala kebaikan Ben. Itu saya pura-pura beranggapan Nayla tengah memberontak. Begitu sulitkah untuk merasakan hidup bahagia? Jika ternyata ‘pemberontakkan’ menjadi juru kunci bagi seorang perempuan untuk bahagia.

Jika benar orang Rusia mengatakan: pada akhirnya jika ditakar, arti kebahagiaan dan penderitaan setiap orang itu akan sama besarnya, saya pura-pura mencarinya dalam novel setebal 180 halaman ini. Lalu ketika Ben ditikam Nayla, akhirnya Ben lenyap, Nayla sendiri. Saat Nayla memilih di Jakarta ketimbang ikut Juli ke Bandung, Nayla sendiri. Ketika Nayla meninggalkan teman-teman rumpian-nya dan lebih memilih diskusi dengan para sastrawan. Sekarang, siapa yang paling bahagia?

Bukan sulit untuk mengerti mengapa Nayla memilih kabur dari rumah perawatan Anak Nakal dan Narkotika ketimbang pulang dijemput seorang ibu. Nayla memberontak. Lalu mengapa Nayla memilih menjadi bidadari saat mabuk, ketimbang saat tidak mabuk, atau tidak sebaliknya Jadi, siapa yang paling menderita?

Untung saja bab (dalam novel dikatakan sebagai pertemuan) ke Delapan tidak pernah ada. Dari awal memang tercium gelagat kalau inilah dunia serba pecah, serba menggantung, serupa fragmen yang tak terlerai sampai akhir. Nayla mencuri banyak perhatian bukan saja dari segi keberaniannya, tapi, kejujuran melihat dunia yang tersisih dan tak ada penyelesaian hingga detik ini.

Saya melihatnya sebagai sebuah narasi pemberontakan. Ikhwal kekuatannya mengangkat manusia tertindih, terjajah, terluka, tersingkiri, dan sebagainya memang patut dihargai. Sayangnya, dia bisa nulis kata ‘ngewe’, kenapa menulis hanya ‘kenti’ bukan ‘kontol’ sekalian? Saya pingin tahu, bagaimana kalau penulis perempuan menjelajahi dunia kita-kita ini sekalian… Pasti ada ambien yang berbeda ketika memilih diksi itu saat menuliskannya…

*** Ahmad Jayadi; untuk novel Nayla-Djenar Maesa Ayu, Gramedia Pustaka Utama, 2005

Djenar dan Paradoks Masyarakat Kita

Belum genap setahun, buku kumpulan cerpen Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) — selanjutnya disingkat JMMK — karya Djenar Maesa Ayu sudah mengalami cetak ulang keempat sejak diterbitkan pertama kali pada Januari 2004. Ini termasuk sesuatu yang luar biasa dalam penerbitan buku karena bisa mengalahkan buku pelajaran dalam hal cetak ulang. Di sampul halaman depan buku ini tercantum sebuah catatan singkat, ”untuk pembaca dewasa”.
Catatan itu mengingatkan kita pada peringatan yang menempel pada bungkus rokok bahwa ”merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin”. Peringatan yang terkesan ”mulia” itu dilakukan dengan sadar oleh produsen rokok sekaligus tetap berharap rokoknya terus dibeli oleh masyarakat. Sebuah paradoks yang sangat menggelikan, namun terus bergulir di dalam masyarakat kita hingga sekarang. Fakta ini menunjukkan bahwa peraturan atau peringatan kesehatan tidak terlalu diperhatikan atau tidak ditaati di negeri ini.
Demikian pula catatan kecil di sampul buku Djenar Maesa Ayu, ”untuk pembaca dewasa”, bisa jadi merangsang pembaca yang belum dewasa untuk segera dewasa. Akibatnya, buku itu akan laku di pasar dan akan terus dicetak ulang karena sangat menguntungkan penerbit dan penulisnya.
Buku terbaru Djenar ini seperti buku pertamanya, Mereka Bilang, Saya Monyet! (di antaranya terdapat cerpen yang berjudul ”Memek”) diterbitkan oleh penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, sebuah penerbitan yang mengklaim dirinya sebagai penerbit buku-buku utama. Terbetik penilaian pembaca sesaat setelah membaca JMMK terbitan Gramedia ini. Pertama, seperti inikah buku utama yang dimaksudkan oleh Gramedia? Kedua, buku sastra ini perlu diberi catatan ”untuk pembaca dewasa”, dengan asumsi pembaca pemula tidak dianjurkan untuk membacanya! Kenapa pula karya sastra lainnya tidak diberi catatan seperti itu? Apakah itu berarti bahwa buku-buku sastra lainnya boleh dibaca oleh siapa saja, dan buku Djenar tidak?
Di buku ini pula Richard Oh, pemilik QB Worldbooks dan pemberi Khatulistiwa Literature Award (KLA) memberi pengantar yang sangat permisif dan menyebutkan cerpen ”Menyusu Ayah” (yang diterjemahkannya menjadi ”Suckling Father”) sebagai cerpen terbaik dalam kumpulan cerpen ini. Cerpen ”Menyusu Ayah” dapat diinterpretasikan sebagai bentuk perlawanan seorang (anak) perempuan terhadap laki-laki (Ayah, teman-teman Ayah, dan teman laki-laki sebaya anak perempuan yang bernama Nayla itu).
Sejauh perlawanan itu bertujuan menyejajarkan posisi antara laki-laki dan perempuan, maka hal itu sangat bisa diterima dan bahkan perlu didukung. Tapi, ketika perlawanan itu hanya mengubah posisi dari keadaan ”tertindas” (inferior) menjadi ”penindas” (superior), maka perlawanan itu hanyalah omong kosong. Tetap saja akan terjadi dominasi satu pihak atas pihak lain, apa pun jenis kelaminnya. Karena, dalam cerpen itu sangat jelas ”bentuk” perlawanan si pencerita (perempuan), bahwa ”Saya tidak ingin dinikmati. Saya hanya ingin menikmati”, yang merupakan antitesis dari ucapan Ayahnya, ”Bahwa payudara bukan untuk menyusui namun hanya untuk dinikmati lelaki”.
Kalau kita lebih detail lagi masuk ke dalam cerpen ”Menyusu Ayah”, maka akan terbaca seperti ini:
”Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah dari laki-laki. Karena, saya tidak mengisap puting payudara Ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Saya menyedot air mani Ayah.”
Cerpen dalam buku JMMK yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama itu telah mengalami cetak ulang yang keempat, yang berarti pasar sangat merespons dengan baik kehadiran buku tersebut. Tinggallah kita bertanya-tanya, apa yang bisa dipelajari dari ”cerpen terbaik” versi Richard Oh dan Jurnal Perempuan itu? Apakah itu merupakan sebuah bentuk perlawanan sebagaimana fungsi sastra sebagai media ekspresi? Atau apakah sebuah potret sosial semata sebagaimana fungsi sastra sebagai representasi? Yakni, sebuah potret masyarakat yang sakit, yang memperlihatkan potret seorang anak perempuan (Nayla), Ayah, teman-teman Ayah, yang semuanya sakit. Dan hanya ada beberapa teman laki-laki sebaya Nayla yang masih menunjukkan harapan untuk menjunjung tinggi moral — sesuatu yang sangat ditertawakan atau bahkan dikangkangi oleh tokoh-tokoh dalam cerpen Djenar Maesa Ayu. Semua tokohnya nyaris seperti itu, tak terkecuali dalam cerpen yang sengaja diberi judul ”Moral”. Apakah karya semacam ini yang akan mewarnai sejarah sastra Indonesia di masa depan, sebagaimana yang pernah diprediksi oleh Sapardi Djoko Damono?
Kebetulan buku JMMK ini masuk dalam lima besar karya sastra ”terbaik” yang berhak mendapatkan KLA 2004. Untungnya, dewan juri yang diketuai Manneke Budiman, pengajar sastra di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) sekaligus Wakil Ketua Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) Pusat, masih memiliki akal sehat dengan memenangkan kumpulan cerpen Linda Christanty, Kuda Terbang Maria Pinto yang sangat impresif itu dan roman Negeri Senja Seno Gumira Ajidarma. Penilaian dewan juri KLA 2004 ini sungguh membesarkan hati para pengajar sastra di sekolah-sekolah, bahwa karya sastra yang berhak mendapat penghargaan itu bukanlah karya sastra yang sekadar merangsang kelamin pembacanya, melainkan juga merangsang pemikiran dan nurani pembacanya.
Tapi, kalaupun kata-kata Djenar dalam bukunya sejenis dengan yang saya kutip di atas dianalogikan sebagai racun nikotin dalam sebatang rokok, tidak serta-merta kita menganjurkannya untuk dilarang. Bagaimanapun buku yang beraroma seks dan rokok memiliki hak untuk hidup atau ada. Karena, baik rokok maupun buku Djenar memiliki gerbong yang panjang menyangkut nasib banyak orang, apalagi negara ini sedang belajar berdemokrasi, yang meniscayakan perbedaan dan keberagaman. ”Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat,” kata Chairil Anwar.
Hanya saja, minimal pembaca tahu ketika disodorkan buku JMMK, mereka sudah paham bahwa ini adalah buku ”untuk pembaca dewasa”, persis seperti film-film ”untuk dewasa” yang menyatroni rumah kita lewat televisi. Persoalannya, apakah kita akan terus memelihara paradoks semacam ini atau menyatakannya cukup sampai di sini.

Asep Sambodja, pengajar sastra di UI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s