Minggu, 29 Mei 2005: Setelah Membaca The Orange Girl

Image hosted by Photobucket.com

Baru saja aku mengirim massage kepada beberapa orang sahabat: sudah terlalu larut, tetapi aku tak ingin telat mengatakannya: kau harus membaca ‘gadis jeruk’-nya jostein gaarder. sebuah dongeng tentang kehidupan. luar biasa!

Novel Jostein Gaarder masih ada di depanku saat ini. (Aku tak perlu mengatakan lebih panjang siapa Jostein Gaarder, kan? Barangkali cukup jika kusebutkan ia pengarang Dunia Sophie, novel tentang sejarah filsafat terkenal itu.) Aku memang baru saja selesai membaca bukunya yang diterjemahkan dari The Orange Girl. Sebuah cerita yang luar biasa. Novel itu membuatku lupa makan malam. (Kalau belum baca, sebaiknya Anda segera mencarinya di toko buku sebelum kehabisan lalu membacanya!)

Buku itu aku beli dua kali. Pertama, dua malam yang lalu, tetapi pacarku membawanya ke Jakarta bersama beberapa kaset jazz kesukaanku. Untuk mengisi waktu di ruang tunggu airport kalau-kalau penerbangan ditunda. Hal itu seringkali terjadi. Biasalah orang Indonesia sangat tidak profesional, katanya, seolah-olah ia bukan orang Indonesia. Sambil membaca buku, supaya tidak diganggu oleh orang di dekatnya, ia akan menutup telinganya dan mendengarkan musik dari walkman. Ini juga kebiasaan orang Indonesia, banyak tanya, cerewet dan sok kenal. Itulah sebabnya ia membawa serta beberapa kasetku pula.

Kemarin subuh aku mengantarnya ke airport. Ia berangkat dengan pesawat penerbangan pertama hari itu, harganya lebih murah. Kalau persoalan duit pacarku memang sangat perhitungan. (Kau tahu apa yang ingin ia lakukan setelah selesai dari Sastra Inggris yang membosankan itu? Ia akan mengambil Kursus Manajemen lalu membesarkan bisnis cafe baca kami.) Kepergiaannya itu sebenarnya sangat mendadak. Kepastian berangkat ia sampaikan padaku beberapa menit sebelum pukul delapan malam. Untuk itu aku mengajaknya keluar makan malam. Sesusai makan kami ke toko buku yang menyisakan beberapa menit lagi sebelum tutup, semacam acara perpisahan. Mencoba menahan laju waktu, katanya, seolah-olah ia akan pergi dan tak kembali. Di sanalah, di toko buku itu, aku menemukan Gadis Jeruk yang tinggal beberapa eksemplar, tiga kalau tidak salah. Aku beli satu bersama sebuah kumpulan cerpen Radhar Panca Dahana, Cerita-cerita dari Negeri Asap.

Ia sebenarnya tidak lama. Ia berjanji akan pulang paling lambat dua minggu ke depan. Tetapi kepergiannya yang tiba-tiba itu membuatku sangat sedih. (Barangkali kata sedih tidak terlalu mewakili, tetapi aku tak bisa menggambarkannya.) Aku belum pernah merasakannya, tetapi barangkali seperti seorang yang mati mendadak oleh serangan jantung. Dan akulah Si Suami yang istrinya mati mendadak itu. Tidak rela.

Sebenarnya aku selalu takut dengan kepergiaannya ke Jakarta. Setiap kembali, ia selalu membawa oleh-oleh berita buruk untukku. Ia selalu mengatakan bahwa hubungan kami harus berakhir. Ada satu hal yang belum kuceritakan tentang pacarku: ia keturunan bangsawan Bugis yang baik, selalu patuh pada orangtua. Ibu dan ayahnya selalu mengatakan mau menikahkannya dengan seorang yang lain, bukan diriku.

Di taksi, tiba-tiba muncul pembicaraan tentang hubungan kami. “Kemarin aku bilang kepada Mama kita sudah putus,” katanya memulai. Aku kaget dan bertanya kenapa. Jawabannya pendek, “Kau pernah mengatakannya.” Aku ingat. Aku pernah mengatakan kepadanya bahwa barangkali lebih baik ia mencari lelaki lain untuk ia jadikan suami. Aku khawatir tidak bisa terus bersamanya setelah menikah. Jantungku yang sakit sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa aku akan lumpuh karenanya, seperti ‘ramalan’ seorang dokter beberapa tahun lalu. Itu kulakukan sebenarnya hanya ingin menguji cintanya. Tetapi kenapa menjadi begitu menyakitkan. Dan, putus? Samasekali aku tak menginginkannya!

Hari-hari bersamanya, selama empat tahun lebih, telah mencipta banyak sekali cerita indah. Aku tak mau begitu saja melupakannya. Kenapa kita memulai untuk mengakhiri sesuatu? Malam itu sebelum tidur aku hanya mengecup keningnya lalu bertanya, “apakah kau mencintaiku?” Ia tertawa, tetapi tidak memeluk dan menciumku. Biasanya kalau aku bertanya seperti itu ia menjawab dengan cara tertawa dan memelukku. Tetapi malam itu tidak. Itulah yang membuat perasaanku sangat tidak menentu.

Di taksi menuju bandara kami tak banyak bicara. Barangkali karena kami sama-sama masih ngantuk. Di airport juga begitu. Sesaat sebelum masuk ruang tunggu ia berkata, “jangan terlalu sedih, hanya dua minggu.” Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman. Juga tidak ada ucapan selamat jalan. Aku berjalan pulang tanpa menoleh lagi. Di taksi, aku minta Pak Sopir memindahkan saluran radio ke 99.2 FM. Stasiun favoritku itu selalu memutar lagu-lagu oldies. Lagu-lagu seperti itu membuatku merasa lebih bijak dan dewasa. Beberapa menit kemudian aku meminta sopir taksi itu untuk mematikannya. Lagu-lagu lama hanya membuatku bertambah sedih dan kosong. Tak ada yang lebih jahat dari lagu lama, ia tiba-tiba membuatku seperti kehilangan seluruh kehidupan yang sudah kumiliki. Hidup ini memang aneh, sesuatu yang kita sukai bisa berbalik menjadi benci seketika.

Tadi siang, setelah keluar dari warnet, aku melewati sebuah toko buku. Tiba-tiba terpikir olehku untuk membeli lagi Gadis Jeruk, tanpa alasan. Baru setelah membelinya aku mengatakan kepada diri sendiri bahwa kalau pacarku kembali buku itu bisa menjadi bahan diskusi yang tepat. Setiap kali ia kembali dari Jakarta, pertemuan pertama kami selalu penuh kekakuan. Aku selalu takut dan deg-deg menanti kabar buruk dari orangtuanya, hingga tak bisa mulai bicara. Ia juga barangkali berat menyampaikan berita buruk itu, membuatnya susah memulai. Begitulah hingga aku membeli buku itu sekali lagi.

Setelah membaca Gadis Jeruk, semakin tak menentulah perasaanku. Novel itu lancar bercerita dengan banyak kejutan membuatku ingin sampai di akhir cerita secepat mungkin. Ingin segera menjawab seluruh teka-teki yang dengan indah diletakkan penulisnya di sana-sini. Tetapi tidak sepenuhnya begitu dengan kisah kepergian pacarku. Sekarang aku berada di antara. Aku ingin mempercepat waktu agar bisa sampai di akhir kisah, agar bisa bertemu kembali dengannya. Di sisi lain aku ingin waktu berjalan pelan, aku tak mau mendengar kabar buruk itu.

Sesungguhnya jawabannya akan datang dua minggu lagi. Tetapi aku selalu khawatir dengan kabar buruk. Sebaiknya sekarang aku minum beberapa butir obat tidur dan berdoa. Semoga dengan begitu aku bisa tidur lama dan terbangun tepat saat ia datang (dan semoga ia tak membawa kabar buruk.) Sekarang sudah terlalu malam, aku tak berani memutar lagu lama pengantar tidur. Meskipun laki-laki boleh saja menangis, tetapi aku tak mau kali ini.

(Aku hampir lupa mengatakannya. Beberapa menit lalu sms balasan dari seorang sahabat masuk: besok pagi aku ke situ. sepertinya dahsyat betul buku itu.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s