[prosa] September, Pohon Mangga, dan Hutan Kenangan

Image hosted by Photobucket.com

Dua hal aku benci dalam hidup: September dan pohon mangga. September yang kemarau dan pohon mangga di depan rumah. September beberapa tahun lalu, kami bercerai. Rusdi tak mau menemaniku mempertahankan rumah tangga. Kami pisah. Pohon mangga harus ditebang. Pohon mangga pernikahan. Aku dan Rusdi menanamnya di halaman, sehari setelah pindah ke rumah ini—rumah yang dibeli dengan peluh kami sendiri. Tiga anak perempuan dan seorang lelaki lahir dari rahimku di rumah ini.

Pohon mangga itu telah menghasilkan banyak buah, tak terhitung. Dikupas, dirujak, dan dimakan bersama, di beranda. Aku menangis waktu pohon mangga itu ditebang Rusdi. Aku tahu Rusdi juga menangis. Namun pohon mangga itu harus ditebang sebagai akhir cerita, sebuah akhir pernikahan. Kami telah sepakat dengan itu. Tak boleh ada yang egois di antara kami membiarkan pohon itu tetap tumbuh. Aku sebenarnya tak ingin pohon itu ditebang dan—aku tahu—Rusdi juga. Namun tak boleh ada kata sepakat untuk tak menebangnya. Pohon itu lalu ditebang dengan parang yang tak terlalu tajam, parang yang jarang kena asah.

Waktu itu September, anak-anak berlari ke kamar sambil memeluk tangis masing-masing. Rusdi harus pergi dari rumah ini, hari itu—tidak untuk kembali lagi. Pergi ke kota lain, bukan ke kantor cari hidup untuk keluarga. Aku mengantarnya sampai beranda—tempat biasa makan rujak mangga—membawa tas yang berisi potongan-potongan baju dan celana yang aku hafal betul warna-warnanya. Anak-anak tetap di kamar, menangis. Perceraian selalu diberi hadiah airmata, memang begitulah adanya.

Sebelum Rusdi pergi, mata kami yang lembab sempat bersalaman.
“Tak perlu berusaha melupakan pohon mangga itu. Kau harus tahu bahwa lupa adalah lahan subur kenangan-kenangan. Biarkan ia mengalir seumpama sungai. Saatnya akan tiba, kau betul-betul lupa.” Ia memindahkan matanya ke pohon mangga yang batangnya tinggal selutut, lalu pergi.

Aku berbalik dan masuk. Aku membiarkan pintu terbuka sebagai jawaban yang berkata: Rusdi, aku sepakat dengan kalimat-kalimatmu. Dengan ujung lengan daster, aku hapus sisa-sisa airmata, artinya: ya, betul, aku tak perlu berusaha untuk lupa. Di depan kamar Rora—anak pertamaku—aku berdiri serupa lilin leleh oleh api. Tanganku kaku di jarak sejengkal sebelum sampai di daun pintu. Daun pintu itu rapat serupa ribuan ‘tidak’ diteriakkan dengan benci paling sempurna. Aku masih berdiri, tiba-tiba tiga pintu dibanting berturut-turut, ‘prak’, ‘prak’, ‘prak’, mengagetkan aku tiga kali tanpa jeda di sela-selanya. ‘Prak’ itu artinya: bertambah ribuan ‘tidak’ tiga kali lipat. Tanganku jatuh serupa daun-daun kering pohon mangga.

Dalam duduk, aku panjatkan doa-doa. Doa-doa saja, tanpa airmata. Doa-doa panjang. Aku tak mampu memilih diksi yang baik dan kalimat pendek. Sebenarnya aku ingin berkata: Tuhan, kokohkan aku, kokohkan Rora dan adik-adiknya! Lalu tiga kali ‘amin’ aku letakkan di ujung doa. Rusdi barangkali berada di dalam taksi waktu itu, ada pesawat nomor penerbangan sekian menunggu untuk membawanya terbang dari airport. Pergi dari rumah ini dan melupakan pohon mangga yang telah ia tebang.

***

Dua hal aku benci dalam hidup: September dan pohon mangga. September tiba selalu dengan kemarau tajam-tajam. Di halaman, bunga-bunga butuh disiram. Pohon mangga, batangnya tetap selutut. Aku pernah lihat ada tunas-tunas tumbuh di situ, lalu mati. Barangkali ia butuh bulan yang hujan, bukan September. Setiap saat, di beranda, aku duduk melihat taman sekarat, sementara kenangan tumbuh subur, di mana-mana. Tentang rujak mangga. Tentang Rusdi dan tawa anak-anak.

Rumah sepi serupa surau sejak Rusdi pergi. Tawa anak-anak seperti ikut dilipat di koper-koper Rusdi lalu terbawa ke kota lain. Anak-anak membeli rumah yang lain, sendiri-sendiri: bar, mall, dan jalanan. Setelah lelah, pagi hari mereka kembali beberapa jenak menitip pejam pada bantal lalu pergi lagi di sore hari. Pagi tanpa sapa dan siang aku sendiri di meja makan. Aku sungguh berumah di sepi. Rusdi, di mana rumahmu sekarang? Rusdi, siapa yang memasak untuk makan malammu?

Aku ingin mati dalam September yang kemarau seperti bunga-bunga di halaman. Tetapi mati tidak bisa dipesan lalu seorang mengantarnya serupa pesanan dari restoran cepat saji. Aku ingin ditebang serupa pohon mangga. Dibakar di tempat sampah dan abuku menyuburkan bunga-bunga liar. Tetapi mati yang kuinginkan separuh dibawa Rusdi, selebihnya dibagi anak-anak. Aku tubuh semata. Tubuh kosong tanpa apa-apa di dalamnya. Aku telah mati, rupanya. Aku telah mati jauh malam sebelum doa-doa tiba di alamat Tuhan.

Dan kenangan, ia terus tumbuh serupa hutan belantara. Di dapur. Di kamar mandi. Di beranda. Di kamar tidur. Bahkan pernah suatu sore selepas mandi, aku menemukan ia tumbuh memutih di rambutku. Rusdi, datanglah ke rumah ini, tebanglah semua hutan-hutan itu—seperti saat kau menebang pohon mangga di halaman. Aku masih menyimpan parang. Aku bahkan setia mengasahnya setiap pagi. Pasti ia sudah cukup tajam untuk menebang semua batang-batang. Aku asah dengan doa-doa paling minta. Rusdi, datanglah! Tebanglah! Jika kau tak bisa menebangnya, bakar saja seperti membakar daun-daun mangga kering di tempat sampah.

Sebenarnya, aku pernah bermimpi anak-anak bermain petak umpet di hutan-hutan itu. Tetapi mereka sudah terlalu besar untuk petak umpet. Mereka memilih bermain di udara yang lebih luas, bukan di hutan kenangan. Rusdi, di mana kau? Sudah berapa pohon mangga yang kau tanam? Di halaman rumah siapa?

***

Dua hal aku benci dalam hidup: September dan pohon mangga. September tak pernah mau beranjak dari rumah ini. Betah. Ia sibuk meletakkan neraka di segala sudut. Bahkan di dada. Batang pohon mangga tetap selutut serupa prasasti. Prasasti yang mengekalkan dosa-dosa. Aku ingin September pergi dari rumah, menyusul dan memanggil Rusdi kembali. Aku ingin ia mencabut pohon mangga selutut itu agar aku bisa lupa segala kenangan. Tanganku terlalu lemah untuk mencabutnya. Setelah itu, biarlah Rusdi pulang ke mana ia suka, sebab setidaknya aku bisa tidur kembali.

Aku tak punya tidur yang bisa dihitung. Pohon-pohon melilit tubuhku setiap rebah di tempat tidur. Berapa harga sebuah Februari? Aku ingin memiliki Februari yang basah? Bulan yang menghapus gerah-gerah. Tapi Februari atau September bukan cincin yang dipajang di etalase, kita bisa membelinya kalau uang cukup dan menjual atau menukarnya bila tidak suka. September adalah utusan Tuhan untuk menemani manusia yang membawa dosa-dosa di pundaknya, seperti aku.

September tinggal layaknya di rumah sendiri, dan aku tamu saja. Aku tak bisa menolak kemauan tuan rumah. Di ruang tamu, beranda dan di kamar tidur aku hanya bisa menangis diam-diam. Padahal, aku pikir airmata telah kemarau seperti September. Ternyata di mataku ada mata air yang tak mati-mati. Mata air itu menyediakan minum buat hutan-hutan.

Aku sering sekali mengenakan daster yang aku kenakan saat Rusdi pergi hari itu. Ujung lengannya pintar menyerap airmata. Aku tak lagi bisa mengenakannya, sekarang. Di sana, di lengannya, tumbuh hutan yang subur. Di depan cermin—bahkan—setiap hari aku temukan hutan-hutan baru tumbuh di tubuhku. Terakhir, aku lihat hutan tumbuh di sepasang kelopak mataku. Akar-akarnya kekar menghunjam. Tanganku tak cukup kuat mencabutnya. Semakin aku menangis semakin hijaulah hutan-hutan itu. Rusdi, datanglah ajari aku tidak menangis! Bagaimana caranya?

***

Anak-anak semakin susah ditemukan di rumah. Malam ini, aku menunggu mereka di beranda. Aku harus bicara pada mereka. Besok aku tahu September sudah berangkat dan akan digantikan oleh Oktober. Oktober biasanya datang membawa butir-butir hujan yang sedih. Hujan yang sedikit. Hujan yang tak pernah sungguh menghapus debu-debu, apalagi kenangan. Tetapi hujan apapun yang dibawa Oktober semuanya sudah terlambat. Aku sekarang tak lagi butuh hujan. Hujan hanya akan datang menambah subur hutan-hutan.

Satu per satu anak-anak tiba tanpa satu ucap selamat malam. Aku tahu mereka tak ingin orangtuanya berpisah. Namun sebelum mereka lupa siapa nama ibunya, aku harus mengatakan sesuatu hal. Aku mengajak mereka ke meja makan. Dulu, di meja ini kami sering tertawa bersama. Malam ini aku tak menemukan satu gema tawa lagi di meja, yang paling bisik sekalipun. Di meja ini pula aku dan Rusdi putuskan bercerai.

Tak ada apa-apa di meja makan selain diam. “Maaf, aku menunda tidur kalian. Aku mau bicara. Setelah itu, kalian boleh pergi mencari mimpi paling indah di kamar kalian masing-masing.” Aku bicara seolah bukan ibu mereka, harus meletakkan kata maaf di awal kalimat. Tiba-tiba mereka mengangkat mata-mata mereka dan menaruhnya pada wajahku. “Kalian barangkali ingin ayah kembali ke rumah.” Sengaja aku tegas pada kata barangkali, sebab aku tak lagi tahu apa yang mereka pikirkan. “Jujur, aku juga—“ Aku berhenti sesaat. Aku lihat Rora menahan kata-kata di bibir. “Lalu mengapa ibu dan ayah tidak tidur sama-sama?” Ia seperti telah menyiapkan pertanyaan ini sejak hari saat kepergian Rusdi dari rumah ini.

“Nak, aku yang salah. Maafkan aku!” Aku berhenti, menata nafas sejenak. Aku menangis. Mereka juga menangis.
“Ia pergi karena aku. Ia tidak tahan lagi. Rusdi itu mandul. Kalian adalah anak-anak orang lain, bukan anak Rusdi.” Hening. Aku hirup kekuatan. “Awalnya aku dan Rsdi sepakat akan hal itu. Tetapi aku mau punya satu anak lagi, aku ingin seorang anak lelaki. Hingga suatu pagi, ia menemukan aku melakukannya lagi dengan orang lain itu. Ia sudah tak kuat lagi menahan semua yang ada di dadanya.”

Aku tak kuat lagi. Tak ada lagi kekuatan yang bisa dihirup. Kepalaku jatuh ke meja, ‘buk’. Kudengar pintu dibanting empat kali, ‘prak’, ‘prak’, ‘prak’, ‘prak’.

Makassar, 2004

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s