aku, kau, dan ujung-ujung hujan



dulu dalam dingin kita berpelukan

sambil membayangkan ujung-ujung hujan

sebagai kembang api yang merayakan

cinta yang tak akan pernah dijarakkan

sampai tibalah hari haru itu

kau berlalu, aku menutup pintu

dan ujung-ujung hujan yang jatuh

tumbuh jadi rerumput atau perdu

hari ini, tiba-tiba aku ingat kau,

di dada jalan yang membawamu jauh

setiap ujung hujan yang menyentuh

adalah mekaran bunga-bunga beribu

Februari 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s