kisah seorang penyair tua

hari itu, ia beranjak dari tidurnya lebih dini

ingin sekali ia merampungkan sebuah puisi

perihal keinginan untuk selesai, untuk mati

terkubur di laut biru tanpa nisan tanpa peti

dengan baju penghangat dan secangkir kopi

ia mulai menulis bait-bait dari kesunyian pagi

di luar jendela, alam seperti gadis seusai mandi

pepohonan dan rerumputan basah oleh hujan rinai

“hari yang indah untuk mati,”

kata penyair tua dalam hati.

sesampainya ia di kalimat pertama bait kedua

segala benda di sekitarnya menari oleh gempa

menyisakan garis-garis retak di dinding bata

rumah yang sudah rapuh jatuh seumpama airmata

seperti ada sesuatu yang lucu, ia tertawa

“tuhan, aku tak mau mati dijepit tanah!”

gempa reda, penyair tua ingin kembali ke dalam puisi

tetapi ia dihadang ombak yang hendak menjemputnya pergi

menuju abadi, berbaring di kedalaman laut penuh misteri

sebelum terlempar dari kursi, ia tersenyum pada diri sendiri

“terima kasih, tuhan, telah berabad-abad engkau kunanti!”

01/2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s