HUJAN RINTIH RINTIH telah terbit!

ini buku antologi yang memuat 45 judul sajak-sajakku! beli yah! cover-nya keren kan? isinya juga keren, dong! kesemua puisi dalam buku ini dipilih oleh Muhary Wahyu Nurba (penyair, cerpenis dan pelukis) yang menjadi penyunting sekaligus mendesain cover dan membuat lukisan khusus untuk buku ini!

berikut ini saya kutipkan sebagian pengantar kumpulan sajak itu yang ditulis oleh penyuntingnya!

Sewaktu Hujan Jatuh,Aku Mengungsi Ke Dalam Sajak-Sajakmu

(Pengantar singkat menikmati sajak)

An, aku punya kisah dan cara tersendiri menikmati sajak-sajakmu yang kau kumpulan dalam Hujan Rintih-Rintih ini. Begini ceritanya:

Minggu pagi. Hujan turun menimpa atap seng rumahku, menimpa pohon belimbing, bunga rumput dan jalanan setengah beraspal, serta seorang anak berumur kira-kira 8 tahun. Anak itu berjalan di bawah hujan menjajakan kuenya. Hujan yang jatuh pagi itu tak sedikitpun menyebabkan anak itu cemas apakah jualannya itu akan habis atau tidak. Ia malah tersenyum seperti memang sedang menyambut datangnya hujan. Ia bahkan tak memanggil-manggil lagi untuk menarik perhatian setiap orang agar membeli kuenya itu. Baginya, hujan adalah segalanya, impiannya. Di dalam hujan, ia bebas menjadi apa saja. Maka ia pun berjalan sambil berharap agar hujan jangan cepat selesai. Ia ingin sekali melihat genangan-genangan air di jalan berlubang yang sebentar lagi akan ada.

Melihat suasana yang demikian itu, aku pun merasa beruntung karena aku tengah memegang naskah sajak-sajakmu ini. Pikirku, inilah waktu yang tepat untuk ‘mengungsi’ ke dalam kumpulan sajak karya penyair M. Aan Mansyur. Judul ini mampu memberi kesenangan awal bagi saya sebagai pembaca. Tentu ini menjadi hal penting, baik bagi kau sebagai penulis atau aku sebagai pembaca. Sebagai penulis, tugasmu adalah menyihir pembaca mulai dari pemberian judul buku yang menarik sehingga pembaca mau merelakan waktu berlama-lama (dan kadang lupa waktu karena keasyikan) membaca keseluruhan tulisanmu….

Setelah membaca judul buku, mulailah aku menelusur sajak demi sajak. Segera terasa bahwa tema yang paling dominan dalam kumpulan ini adalah tema cinta dengan berbagai variannya: kebahagiaan cinta, keputusasaan, dan kesepian manusia. Berbagai varian ini sangat terasa terutama pada sajak-sajak seperti: “musim terlalu cerah untuk air mata”, “sehelai senja di penghujung kemarau”, “kenangan memawar”, “bagi sebuah cinta”, “suatu sore saat hujan”, “cinta adalah”, “hujan rintih-rintih”, seorang perempuan dengan musimnya sendiri,” dan “sehelai kartupos dengan sepasang angsa.” Dari sekian sajak yang mengandung tenaga cinta itu aku suka dengan sajak terakhir. Sajak ini utuh menggambarkan kerinduan aku-lirik terhadap kekasihnya. Dan perlu kau tahu, aku membaca sajak ini perlahan sambil mendengarkan Shirley Horn melantunkan Basin Street Blues penuh perasaan.

maka aku tak menulis surat,

sepagi ini katakata belumlah terbangun

ini saja

sehelai kartupos

dengan sepasang angsa putih

yang kutangkap

dari satu buku haiku

semoga tiba membawa

dadaku pada dadamu

“aku ingin berenang riang

seperti sepasang angsa

menyimak kecipak riakriak

di danau rindu:

—denganmu!”

Seusai membaca sajak ini, aku merasa bahagia mendapat ‘sesuatu’ yang berharga. Lalu kubaca ulang kalimat-kalimat yang aku sukai (aku tandai dengan garis bawah). Mungkin inilah yang disebut oleh Samuel Taylor Coleridge, bahwa sajak itu semestinya the best words in the best order. Dalam sajak ini kau melakukannya dengan baik. Menurutku, kalimat dadaku pada dadamu bisa jadi orisinil ciptaanmu tanpa pernah terlahir dari tangan penyair manapun!

…..

Hou, aku temukan lagi kalimat-kalimat gress. Demi menimpali kegembiraan hatiku ini, David Arkenstone dan Tim Weisberg sepakat berduet menyuguhkan Cruisin.

setiap kau sampai pada hujan

buatlah payung dari tangan-tangan perempuan

(Sajak “setiap kau sampai pada hujan”)

…sebukit sakit

kau biarkan masuk ke segala rumah di tubuhku

(Sajak “tibatiba hujan”)

cinta adalah gugurnya bebaris gerimis

untuk selengkung pelangi yang barangkali

(Sajak “cinta adalah”)

anak-anak di jalanan

bermain air genangan

pada seorang perempuan

aku dikepung kenangan

(Sajak “suatu sore saat hujan”)

Ada satu sajak lagi yang cukup menarik perhatianku ketika membacanya. Sajak yang kumaksud adalah “Malin Kundang”. Dalam sajak pendek ini kau seperti berupaya melanjutkan kisah legenda Malin Kundang dengan imajinasimu sendiri. Setelah Malin Kundang sebagai anak durhaka dikutuk oleh ibunya menjadi batu, sang ibu malah menyesali perbuatannya itu dan berusaha memanggil anaknya itu. Sang ibu mengharapkan anaknya kembali padanya, setidaknya Malin Kundang bisa hidup kembali dan menjadi seekor ikan. Tapi kutukan tetaplah kutukan. Malin Kundang terlanjur menjadi batu:

sungai ini berhulu di matamu

airnya bening memanggilku

menjelma ikan.

tapi aku batu, ibu!

….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s