Sulawesi Selatan dalam Peta Sastra Indonesia

(catatan kecil selepas membaca tak ada yang mencintaimu setulus kematian)

Saya sedang dikelilingi tujuh buah buku seri Cakrawala Sastra Indonesia (CSI) terbitan Logung Pustaka bekerja sama dengan Akar Indonesia saat menulis tulisan ini. Buku-buku itu adalah kumpulan karya para penyair dan cerpenis Indonesia yang tampil di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki 14-17 September 2004 lalu, acara yang digelar Dewan Kesenian Jakarta. Saya senang bisa memiliki buku-buku itu meski harus jauh datang ke Jogja dan menemukannya terselip di antara tumpukan buku lain. Satu di antaranya berjudul tak ada yang mencintaimu setulus kematian (TAYMSK). Meski paling tipis tetapi saya malah jatuh cinta padanya. Buku itu diberi anak judul suara dari Sulawesi Selatan pada halaman ketiga. Saya tersihir mendengar empat penyair dengan ‘suara’ khas masing-masing; Aslan Abidin, Hendragunawan S.Thayf, Muhary Wahyu Nurba, dan Tri Astoto Kodarie.

Serupa seorang penonton yang ingin menyalami sambil menyelipkan dua kalimat komentar kepada temannya yang baru saja turun pentas —dilatari tepukan tangan yang belum reda— begitulah maksud tulisan ini. Tetapi sebelumnya, saya ingin menyatakan rasa sedih saya, sebab buku ini sejak terbit, September 2004, belum sempat didiskusikan di kampungnya sendiri—kecuali pernah ada resensi di Koran Kampus Identitas oleh Ahmad K. Syamsuddin. Ini bukan kesalahan siapa-siapa, sebab saya tahu buku ini sampai sekarang belum juga beredar di Makassar. Tetapi saya pikir keberangkatan 4 penyair Sulsel ini saja sudah sewajarnya meninggalkan banyak tanda tanya yang akan menjadi bahan ‘bincang-bincang’, entah di warung kopi siapa dan oleh siapa. Barangkali ‘bincang-bincang’ itu akan berangkat dari sebuah pertanyaan sederhana; Mengapa mereka? Apa yang istimewa dari mereka? Pertanyaan kemudian akan meluas ke berbagai-bagai masalah lain seperti; hanya empat orangkah yang layak, sementara daerah lain mengirim tujuh, kecuali Jatim lima orang? Mengapa diwakilkan pada puisi, bukan cerpen seperti Riau dan Sumbar? Sampai pada pertanyaan apa kabar kesenian Sulsel, kemarau? Dan lain dan seterusnya.

Saya telah menyinggung di awal tulisan ini bahwa TAYMSK adalah buku paling tipis di antara yang lainnya, hanya 157 + xviii hal. Coba kita bandingkan dengan yang lain; birahi hujan (Jawa Timur) 360 + xviii hal., nafas gunung (Jawa Barat) 335 + xx hal., medan waktu (Yogyakarta) 332 + xx hal., pertemuan dalam pipa (Riau) 347 +xvii hal., malaikat biru kota hobart (Bali) 397 +xix hal., dan kalau julies sedang rindu (Sumatera Barat) 297 + xv. Kenapa bisa begitu? Tentu saja kita sepakat bahwa kualitas sebuah buku sama sekali tidak berbanding lurus dengan ketebalannya. Tetapi saya merasa tetap saja ada banyak kalimat yang mesti dibubuhi tanda tanya menyoal buku ini. Selain karena hanya 4 penyair, setelah membaca semua buku lainnya, langsung saja saya menemukan bahwa satu-satunya buku yang tidak dilengkapi dengan ulasan oleh kritikus sastra adalah buku ini. Nah, satu lagi pertanyaan, benarkah Sulawesi Selatan tidak memiliki seorang kritikus sastra? Ah, yang benar saja! Hei, bukankah tak akan bertumbuh dengan baik wacana sastra tanpa kritikus sastra?

Saya merasa telah berbohong! Di awal tulisan ini saya mengatakan ingin menyalami 4 penyair yang baru saja turun pentas dan menuai tepuk tangan itu. Nyatanya saya malah bertanya dan bertanya entah kepada siapa. Tetapi begitulah, sebab memang saya merasa tidak cukup pintar untuk memberi komentar pada sajak-sajak yang dimuat dalam TAYMSK. Mengenai komentar, saya hanya ingin menyampaikan rasa kagum pada Hendragunawan S. Thayf, penyair yang barangkali tidak begitu banyak dikenal oleh sastrawan muda Sulsel tetapi tetap—dalam sepi—tak putus menulis kesaksian pada segala hal yang melingkupinya dengan sangat ‘cantik’. Sejujurnya, saya telah begitu terpana pada kelihaiannya memainkan kata-kata sekalian dengan bunyinya tanpa sedikitpun kehilangan makna. (Dalam waktu lain, saya berjanji, akan menulis sesuatu khusus tentang penyair yang satu ini.)

***

Saya kira masih banyak pertanyaan lain tentang buku ini. Tetapi menurut hemat saya, dengan modal beberapa pertanyaan di atas saja sudah cukup bagi kita untuk memasuki peta sastra Indonesia lalu mencari-cari di mana gerangan ‘rumah’ kita berada. Bisa jadi acara CSI ini bagi sebagian orang belum cukup kuat untuk menjadi skala pemetaan sastra Indonesia tetapi bagi kita yang nyatanya mengikutkan ‘wakil’ dalam acara itu sudah cukup menjadi sebuah alasan. Pertama, hanya 7 dari 31 propinsi di Indonesia yang mendapat kehormatan untuk mengikuti acara ini. Itu adalah kabar gembira bagi kita sebab Sulsel ternyata terlalu besar untuk tidak nampak di peta. Sebaliknya hal ini adalah pasti sebuah kabar buruk bagi daerah lain yang terlalu kecil untuk ikut digambar dalam peta.

Kedua, sepertinya ini bukan lagi kabar gembira, 4 penyair yang ikut dalam CSI adalah—sebenarnya—sudah muka lama. Artinya, ternyata tak ada regenerasi (istilah ini barangkali kurang tepat) di Sulsel. Sekali lagi mari kita bandingkan dengan daerah lain; Riau punya dua sastrawan muda yaitu Marhalim Zaini (1976) dan Murparsaulian (1978), di Sumatera Barat ada Yetti A. KA (1980), dan Bali mengirim seorang perempuan muda, paling muda di perhelatan itu, Putu Vivi Lestari (1981). Kalau beberapa tahun ke depan tak lahir juga ‘adik’ dari Aslan Abidin dan kawan-kawan itu, sudah bisa dipastikan bahwa Sulsel tinggal menunggu masa hilangnya dari peta. Ini sebuah tantangan sekaligus tanggung jawab bagi penulis-penulis muda Sulsel untuk lebih menggenjot diri!

Ketiga, ada sebuah pertanyaan yang belum terjawab mengenai Sastra Sulsel; mengapa hanya puisi? Belum pernah rasanya kita mendengar cerpenis Sulsel disebut-sebut dalam Sastra Indonesia. TAYMSK satu lagi bukti bahwa memang puisilah yang menjadi ‘andalan’ Sulsel, sampai hari ini belum bisa dipungkiri. Dalam per-cerpen-an Indonesia sepertinya Sulsel terlalu kecil untuk ikut masuk dalam peta. Sehingga, sebenarnya, dalam peta sastra Indonesia (memakai skala CSI) yang ada hanyalah penyair-penyair Sulsel. (Tulisan ini tidak melibatkan drama dan novel, sebab CSI memang hanya mengundang penyair dan cerpenis saja.) Harapan kita bersama, semoga akan lahir juga cerpenis di daerah ini!

Selanjutnya, saya heran kenapa buku ini tidak dilengkapi dengan ulasan oleh seorang kritikus sastra seperti buku lainnya. Jangan-jangan yang menyebabkan masalah kedua dan ketiga di atas adalah karena tidak adanya (kurangnya?) kritikus sastra di daerah ini? Atau malah sebaliknya, tidak adanya kritikus sastra disebabkan oleh tidak banyaknya karya yang bisa dibaca oleh mereka? Kehadiran kritikus sastra tentu sangat besar peranannya dalam menentukan posisi kita di peta itu.

Meski hari ini Sulsel masih ada di peta sastra Indonesia, sepertinya banyak hal yang perlu diperhatikan. Sebab hanya ada dua kemungkinan; kita akan tetap di sana atau kita hilang entah tertimbun apa. Ada yang terlupa, sedikit lepas dari TAYMSK, saya sebagai penikmat sastra sangat merindukan sebuah acara seperti CSI diadakan di daerah ini. Kalau susah mencari nama, saya mengusulkan huruf I pada CSI diganti saja dengan SS. Barangkali dengan diadakannya CSSS (Cakrawala Sastra Sulawesi Selatan) akan menjadi solusi tepat bagi semua masalah sastra di atas. Siapa tahu! Toh, kalau hal itu kedengaran teralalu muluk-muluk, saya pikir tak ada ruginya sering-sering mengumpulkan sastrawan Sulawesi Selatan saling membaca karyanya masing-masing. Pun kalau hanya bisa melepaskan dahaga atas pembacaan puisi dan cerpen bagi penikmat sastra seperti saya. Terakhir, selamat kepada keempat penyair yang ikut dalam CSI, kapan kita bisa mendengarkan ‘suara-suara’ itu lalu ’bincang-bincang’ ditemani kopi?

Yogyakarta, 13 Desember 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s