Cerpen Pilihan ”Kompas” 2005 Versi Yogyakarta

SEPERTI tahun lalu, sejumlah kreator dan pengamat sastra di Yogyakarta —tahun ini terdiri dari Joni Ariadinata, Saut Situmorang, Raudal Tanjung Banua, Gunawan Maryanto dan Bambang Agung— kembali mengadakan kegiatan Cerpen Pilihan Kompas 2005 versi Yogyakarta. Namun berbeda dengan penilaian tahun 2004 —yang sekaligus membedakannya dengan sistem pemilihan (tradisi) Harian Kompas Jakarta— kali ini tim seleksi tidak menghasilkan pilihan sebuah cerpen dengan predikat “Cerpen Terbaik”, melainkan “Lima Cerpen Baik” dan “Sepuluh Cerpen Lemah”. Hal ini diputuskan dalam rapat penjurian terakhir di Kedai Kebun Forum Jl. Tirtodipuran Yogyakarta, Rabu (29/6), setelah rapat sebelumnya tidak membuahkan hasil.

“Lima Cerpen Baik” tersebut adalah: Kupu-kupu Seribu Peluru (Agus Noor), Air Raya (Azhari), Vampir (Intan Paramaditha), Emas Sebesar Kuda (Ode Barta Ananda) dan RT 03 RW 22, Jalan Belimbing atau Jalan “Asmaradana” (Kuntowijoyo). Sedangkan “Sepuluh Cerpen Lemah” terdiri atas: Angin yang Bersiul di Tingkap (Sunaryono Basuki KS), Pelayan Kudus (Bre Redana), Lelaki yang Ditelan Gerimis (Mustafa Ismail), Hotel Keluarga di Tokyo (Den Setiawan), Abang Yun (Isbedy Stiawan ZS), Warna Ungu (Ratna Indraswari Ibrahim), Barbie & Monik (Teguh Winarsho AS), Seperti Angin Berlalu (Wilson Nadeak), Kyai Sepuh dan Maling (Sandy Tyas) dan Meniti Sepi, Menanti yang Pergi (Isbedy Stiawan ZS)

Sebagai perbandingan, Cerpen Pilihan Kompas 2005 yang diterbitkan dalam buku Jl. “Asmaradana” adalah: RT 03 RW 22, Jalan Belimbing atau Jalan “Asmaradana” (Kuntowijoyo), Roti Tawar (Kurnia Effendi), Belatung (Gus tf Sakai), Bulan Terbingkai Jendela (Indra Tranggono), Kupu-kupu Seribu Peluru (Agus Noor), Dari Mana Datangnya Mata (Veven Sp Wardhana), Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura (Sunaryono Basuki KS), Baju (Ratna Indraswari Ibrahim), Daun-daun Waru di Samirono (Nh. Dini) dan Senja Buram, Daging di Mulutnya (Radhar Panca Dahana).

Menilik diulangnya rapat penjurian sampai dua kali serta bentuk keputusan yang diambil, menunjukkan betapa sulitnya memilih cerpen yang benar-benar baik, apalagi yang terbaik, dari 50 cerpen yang pernah dimuat Kompas Minggu sepanjang tahun 2004. Cerpen-cerpen periode tersebut datar dan membosankan dikarenakan tidak adanya pengembangan imajinasi, sebaliknya, yang terjadi adalah verbalitas dan logika hitam putih. Pembaca bukannya didongengi atau ditunjukkan tetapi justru didikte —dengan penjelasan yang berlebih— oleh peristiwa-peristiwa dalam cerita. Cerpen-cerpen tersebut, sebagian besar, meniadakan fungsi pembaca sebagai penafsir yang aktif.

Memang ada pergeseran cara bercerita, dari perspektif orang ketiga menjadi orang pertama. Sayang, “aku” seringkali terjebak menjai pusat segala kisah dan sangat personal sifatnya, sehingga sulit dimasuki pembaca. “Aku” juga kehilangan jarak dengan realitas dan peristiwa yang dituturkannya. Sementara cerita yang masih memakai sudut pandang orang ketiga juga tidak berkembang sebab tokoh-tokoh hanya berhenti sebagai pelaku —sekadar tempelan, bukan karakter-karakter yang kokoh mewarnai jalan cerita. Keadaan tersebut masih diperparah oleh sikap kreator yang tidak membiarkan cerita berkembang dengan wajar, upaya-upaya untuk mendramatisasi peristiwa yang meninggalkan logika cerita, catatan-catatan kaki yang tak perlu (kegenitan intelektual) serta kegenitan berbahasa yang berlebihan (begitu banyak aliterasi yang sia-sia), yang justru mengaburkan cerita.

Dalam keadaan demikian, tetap ada sejumlah cerpen yang menonjol, yang memberi ruang yang luas pada imajinasi (pembaca). Lewat permainan teknik berbahasa yang terolah, karakter yang kokoh serta plot yang kuat, pembaca diajak memasuki peristiwa —bukan sekadar membaca dan berjarak dengannya.

Karena sulitnya mencari cerpen yang baik pada cerpen Kompas sepanjang tahun 2004, maka yang tampak dominan adalah sejumlah cerpen lemah. Mengherankan, mengapa cerpen-cerpen semacam itu dapat dimuat di ruang yang dianggap standar untuk cerpen kontemporer Indonesia. Padahal, di satu sisi mereka (redaktur Kompas) mengklaim telah menerima begitu banyak kiriman naskah cerpen setiap minggunya. Timbul pertanyaan, apakah redaktur membaca setiap naskah yang masuk? Apakah tidak hanya merujuk nama tertentu (tanpa membacanya)? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting karena “juri” yang sesungguhnya dalam tradisi Cerpen Pilihan Kompas adalah para redaktur ini, sehingga apa pun hasil pilihan setiap tahunnya hanyalah akibat dari pilihan redaktur setiap minggunya.

Kegiatan pemilihan cerpen di Yogyakarta ini tetap mengutamakan landasan estetik. “Lewat wadah ini kita belajar bersama, yang menilai dan dinilai sama-sama mengambil manfaat. Di tengah makin sayupnya suara kritikus, kita harus menciptakan alternatif lain bagi jalan pembelajaran,” kata Joni Ariadinata, salah seorang juri dalam siaran persnya yang diterima Riau Pos, kemarin.. Joni juga menambahkan bahwa upaya ini nantinya akan dilanjutkan dengan memakai bahan dari media lain.(hbk)

dicomot dari Riau Pos, Minggu, 03 Juli 2005

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s